Novel – KAIZEN karya Anindya Elmira Alesha
Dipublikasikan oleh Muliska official pada
KAIZEN
Karya Anindya Elmira Alesha
Hampir satu sekolah mengetahui dua sosok kakak beradik yang memiliki sifat seratus delapan puluh derajat terbalik. Abirasam Subhan dan Nafisha Subhan. Abirasam adalah ketua osis, sedangkan Nafisha adalah ketua berandalan sekaligus siswi langganan di ruang BK. Seperti siang hari ini, Abirasam yang baru saja selesai rapat osis langsung dihadapkan dengan Nafisha dengan wajah memar sedang terduduk di depannya. Wajahnya terlihat malas menanggapi omelan kakaknya.
Abirasam menghela napas kasar lalu menatap serius wajah Nafisha, “Bisa ngga? Sehari aja ngga usah buat masalah di sekolah?!!”
Perkataan Abirasam dibalas oleh Nafisha dengan merotasikan bola matanya.
“Bang! Sekarang gua tanya sama lu! Pernah ngga gua sekali aja minta diurusin, diperhatiin sama lu!? Ngga kan!?” sentak Nafisha. Sentakan dari Nafisha membuat Abirasam berdecih karena Nafisha semakin berani menunjukkan sifat buruknya.
“Kalau lu ngga mau gue urusin! Pergi lu dari hadapan gue! PERGI! DAN KALO BISA JANGAN MUNCUL LAGI DI HIDUP GUE! UDAH MUAK GUE! LU ITU BIKIN GUE MALU!!” teriak Abirasam.
Setelah tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan, Abirasam ingin segera meminta maaf tapi Nafisha sudah berbicara lebih dulu.
“Ok kalau Abang maunya kaya gitu, gue pergi! Tapi jangan cari gue lagi kalau gue beneran pergi!” ketus Nafisha.
Setelah itu Nafisha pergi meninggalkan ruangan osis dan menutup pintu dengan membantingnya kuat-kuat hingga berdebam memekakkan telinga yang mendengarnya. Abirasam kini merutuki ucapan dirinya sendiri, kenapa dia bisa begitu bodoh soal perkataannya sendiri.
Sepulang sekolah Abirasam duduk diam di taman kota sambil menatap pemandangan senja. Ia jadi teringat momen saat ia kecil bersama Nafisha. Nafisha kecil adalah gadis baik yang sangat penurut dan pemandangan senja adalah pemandangan kesukaan Nafisha. Lamunan Abirasam pun buyar saat ia merasa ponselnya berdering. Ternyata yang menelepon adalah ‘Samuell’, sahabat dekat Nafisha. Bergegas ia mengangkatnya.
“Halo el? Kenapa?”
“Bi! Adek lu bi!”
“Kenapa sama Nafisha!?”
“Nafisha kecelakaan! Dia kecelakaan tunggal!”
“JANGAN BERCANDA LU!”
“GUE SERIUS! Sekarang Nafisha ada di rumah sakit Harapan Tahta, udah lu kesini sekarang!”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Abirasam langsung mematikan panggilan dan langsung pergi ke arah rumah sakit.
Abirasam menatap sendu Nafisha yang sudah koma di atas brankar rumah sakit selama satu minggu.
“Naf.. ayo bangun cantik.. kamu ngga capek tidur terus, hmm?” bisik Abirasam kepada Nafisha. Mamah dan Papah mereka pun ikut menatap sendu kedua adik kakak ini.
Setelah sunyi beberapa waktu, gerakan jari telunjuk Nafisha dan kelopak mata Nafisha perlahan terbuka, membuat Abirasam langsung berteriak memanggil dokter untuk memeriksa Nafisha.
Pagi ini Nafisha sudah mengobrol santai dengan Abirasam. Setelah beberapa tahun tidak pernah akur dengan Abirasam, kini Nafisha sudah bisa akur dengan Abirasam.
“Bang.. bantuin Nafisha berubah ya Bang.. Nafisha capek jadi nakal terus..” ucapan Nafisha membuat Abirasam terkekeh gemas.
“Iya dek.. nanti abang bantuin kok. Soal hijrah, apa kamu yakin?” tanya Abirasam.
Nafisha mengangguk mantap, “Iya bang, Nafisha yakin!”
Ternyata Nafisha berhasil membuktikan bahwa dia bisa hijrah menjadi yang lebih baik. Tidak ada lagi Nafisha, si ketua berandalan yang berdandan tebal dan berpakaian terbuka. Nafisha yang sekarang adalah Nafisha yang hanya menggunakan dandanan natural dan kini Nafisha sudah beristiqomah untuk berhijab.
“Abang masih nggak percaya kamu sekarang udah berubah Naf.. abang bangga sama kamu!” ucap Abirasam.
Nafisha dan Abirasam kini sedang jalan beriringan, karena mereka kini selalu pulang bersama.
“Bang, Abang nyadar ngga sih! Abang tiap hari ngomong kaya gitu! Nafisha bosen sumpah!” balas Nafisha dengan tatapan tajam membuat Abirasam terkekeh gemas.
“Naf, besok kamu dateng ya pas pemilihan ketua OSIS yang baru” ucap Abirasam.
Nafisha mengangguk. “Iya, nanti aku dateng, lagian juga udah di suruh sama bu guru,” balas Nafisha.
Hari ini adalah acara kelulusan sekaligus penetapan ketua OSIS yang baru. Banyak drama sudah dilalui. Kini waktunya Abirasam naik ke atas panggung. Abirasam tersenyum sebentar ke arah Nafisha yang memberikannya tanda love di kepala. Abirasam berdehem pelan sebelum berbicara untuk menyampaikan pesannya.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Siang semuanya… Saya Abirasam Subhan. Berdirinya saya di sini untuk menyampaikan pesan tentang siapa ketua osis baru yang akan menggantikan saya. Jadi sebelum saya menyampaikan siapa yang terpilih, dimohon semuanya bisa menghargai hasil yang telah diputuskan. Hasil ini murni dari keputusan semua guru dan anggota anggota osis angkatan saya.”
Abirasam terdiam sejenak lalu menghela napas pelan dan memulai berbicara kembali.
“Jadi yang menjadi ketua OSIS pengganti saya adalah…. NAFISHA SUBHAN”
Satu ruangan seketika berteriak dan bertepuk tangan sangat riuh, bahkan hal itu sampai membuat wajah Nafisha memerah karena malu.
“Saya ucapkan selamat kepada Nafisha Subhan karena berhasil menjadi ketua OSIS. Dimohon amanat saya ini benar benar dijaga. Sekian dari saya, Terimakasih dan Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Suara tepuk tangan dan teriakan kembali memenuhi ruang aula SMA Taruna Bangsa.
Di balkon rumah, Nafisha dan Abirasam sedang bercanda bersama sambil membahas masalah Nafisha yang bisa tiba-tiba terpilih menjadi ketua OSIS.
“Bang, aku kaget bang! Pas kamu bilang kalo aku jadi ketos sekolah,” ujar Nafisha dengan wajah tertekan
Abirasam tersenyum penuh makna, “Ngga papa, abang udah yakin sama kamu.. yang penting kamu harus jaga amanat abang yaa.. “
“Siap kapten!” jawab Nafisha penuh semangat lalu ia memeluk tubuh Abirasam.
Lalu kedua adik kakak itu saling menikmati pemandangan senja sambil memakan cemilan mereka masing masing.
“Jangan pernah takut untuk berubah, karena mungkin saat kamu berubah kamu akan menemukan versi terbaik dalam dirimu pada saat itu juga” -Nindy